Cerita Mesum Larangan Relasi Dengan Atasanku

Selasa, 05 Juni 2018

Ceritabokep88.blogspot.com, Cerita Dewasa- Cerita Mesum Larangan Relasi Dengan Atasanku. Mbak Lia kurang lebih baru 2 pekan berprofesi sebagai atasanku sebagai Accounting Manager. Sebagai atasan baru, dia acap kali memanggilku ke ruang kerjanya untuk membeberkan overbudget yang terjadi pada bulan sebelumnya, atau untuk membeberkan laporan mingguan yang kubuat. Saya sendiri telah termasuk staf senior. Tetapi mungkin sebab latar belakang pendidikanku tak cukup mensupport, management memastikan merekrutnya. Dia berasal dari sebuah perusahaan konsultan keuangan.

Usianya kutaksir sekitar 25 sampai 30 tahun. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Tetapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, dia mengatakan lebih menyenangi jikalau di panggil “Mbak”. Semenjak ketika itu mulai terbina suasana dan kekerabatan kerja yang hangat, tak terlalu formal. Khusus sebab sikapnya yang ramah. Dia acap kali seketika menyebut namaku, terkadang jikalau sedang bersama rekan kerja lainnya, dia menyebut “Pak”. Cerita Selingkuh.

Cerita Mesum Larangan Relasi Dengan Atasanku
Cerita Mesum Larangan Relasi Dengan Atasanku


Dan tanpa kusadari pula, membisu-membisu saya merasa betah dan nyaman jikalau mengamati wajahnya yang indah dan lembut indah. Dia memang indah sebab sepasang bola matanya sewaktu-waktu bisa bernar-binar, atau menatap dengan tajam. Tetapi di balik itu seluruh, rupanya dia menyenangi mendikte. Mungkin sebab sudah menduduki jabatan yang cukup tinggi dalam umur yang relatif muda, kepercayaan dirinya malahan cukup tinggi untuk memerintah seseorang mengerjakan apa yang diharapkannya. ngentot.

Mbak Lia senantiasa berpakaian formal. Dia senantiasa mengenakan blus dan rok hitam yang agak menggantung sedikit di atas lutut. Kalau sedang berada di ruang kerjanya, membisu-membisu saya malahan acap kali mengamati lekukan pinggulnya saat dia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya. Walau komponen bawah roknya lebar, melainkan saya bisa memandang pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya. Amat menarik, tak besar melainkan terang formatnya membongkah, memaksa mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya.

Di dalam ruang kerjanya yang besar, persis di samping meja kerjanya, terdapat seperangkat sofa yang acap kali dipergunakannya mendapatkan tetamu-tetamu perusahaan. Sebagai Accounting Manager, tentu senantiasa ada diskusi-diskusi ‘privacy’ yang lebih nyaman dijalankan di ruang kerjanya ketimbang di ruang rapat.

Saya merasa mujur jikalau dipanggil Mbak Lia untuk membahas cash flow keuangan di bangku sofa itu. Saya senantiasa duduk persis di depannya. Dan jikalau kami terlibat dalam diskusi yang cukup serius, dia tak menyadari roknya yang agak tersingkap. Di situlah keberuntunganku. Saya bisa melirik beberapa kulit paha yang berwarna gading. Melainkan-kadang lututnya agak sedikit terbuka sehingga saya berupaya untuk mengintip ujung pahanya. Tetapi mataku senantiasa terbentur dalam kegelapan. Andai saja roknya tersingkap lebih tinggi dan kedua lututnya lebih terbuka, tentu akan bisa kupastikan apakah bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya juga tumbuh di sepanjang paha sampai ke pangkalnya. Kalau kedua lututnya rapat kembali, lirikanku bermigrasi ke betisnya. Betis yang cantik dan bersih. Terawat. Saya saya terlena menatap kakinya, tiba-tiba saya dikagetkan oleh pertanyaan Mbak Lia..

“Jhony, saya merasa bahwa kamu acap kali melirik ke arah betisku. Apakah dugaanku salah?” Saya terdiam sebentar sambil tersenyum untuk menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdegub.

“Jhony, salahkah dugaanku?”

“Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Mbak Lia tersenyum sambil menatap mataku.

“Saya?”

Saya diam. Terasa amat berat menjawab pertanyaan simpel itu. Tetapi saat menelentang menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.

“Menyenangi menyenangi kaki Mbak. Menawan betis Mbak. Saya. Dan..,” sesudah menarik napas panjang, kukatakan alasan sesungguhnya.

“Menyenangi juga acap kali menyangka-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”

“Persis seperti yang kuduga, kamu pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Tia sambil sedikit mendukung bangku rodanya.

“Bagus kamu tak penasaran menyangka-duga, bagaimana jikalau kuberi peluang memeriksanya sendiri?”

“Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit berkelakar untuk mencairkan diskusi yang kaku itu.

“Kompensasinya apa?”

“Sebagai rasa hormat dan petunjuk terima beri, akan kuberikan sebuah kecupan.”

“Komponen, saya menyenangi. Cuma mana yang akan kamu kecup?”

“Betis yang cantik itu!”

“Ia sebuah kecupan?”

“Seribu kali malahan saya bersedia.”

Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Dia berupaya manahan tawanya.

“Dan saya yang memutuskan di komponen mana saja yang wajib kamu kecup, OK?”

“Deal, my lady!”

“I like it!” kata Mbak Lia sambil bangkit dari sofa.

Dia melangkah ke mejanya lalu menarik bangkunya sampai ke luar dari kolong mejanya yang besar. Saya menghempaskan pinggulnya di atas bangku bangku kerjanya yang besar dan empuk itu, Mbak Lia tersenyum. Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta pesona daya seksualitas. Pesona yang memerlukan sanjungan dan pujaan.

“Periksalah, Jhony. Berlutut di depanku!” Saya diam. Terpana mendengar instruksinya.

“Sejenak tak mau memeriksanya, Jhony?” tanya Mbak Lia sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.

Saya, saya berupaya meredakan debar-debar jantungku. Saya belum pernah disuruh seperti itu. Apalagi disuruh untuk berlutut oleh seorang wanita. Bibir Mbak Lia masih konsisten tersenyum saat dia lebih merenggangkan kedua lututnya.

“Jhony, kamu tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Saya menggeleng lemah, seolah ada energi yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.

Tatapanku terpaku ke dalam keremangan di antara celah lutut Mbak Lia yang meregang. Ingin saya bangkit menghampirinya, dan berlutut di depannya. Sebelah lututku meraba karpet. Wajahku menelentang. Mbak Tia masih tersenyum. Telapak tangannya mengusap pipiku sebagian kali, lalu bermigrasi ke rambutku, dan sedikit menekan kepalaku supaya menunduk ke arah kakinya.

“Saya tahu warnanya?” Saya mengangguk tidak berdaya.

“Kunci dahulu pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kerjanya. Dan dengan tunduk saya mengerjakan instruksinya, kemudian berlutut kembali di depannya.

Mbak Lia menopangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Pada ketika itulah saya mendapatkan peluang mengamati sampai ke pangkal pahanya. Dan kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Pasti dia menerapkan G-String, kataku dalam hati. Sebelum paha kanannya benar-benar tertopang di atas paha kirinya, saya masih sempat memandang bulu-bulu ikal yang menyembul dari sisi-sisi celana dalamnya. Segitiga tipis yang cuma selebar kaprah-kaprah dua jari itu terlalu kecil untuk menyembunyikan seluruh bulu yang memutari pangkal pahanya. Menyenangi sempat kulirik bayang-bayang lipatan bibir di balik segitiga tipis itu.

“Menawan?” Saya mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Mbak Lia ke atas lututku.

Ujung hak sepatunya terasa agak menikam. Kulepaskan klip tali sepatunya. Lalu saya menelentang. Sambil melepaskan sepatu itu. Mbak Tia mengangguk. Saya ada komentar penolakan. Saya menunduk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Kakinya mulus tanpa cacat. Melainkan betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa bulu halus. Tetapi di komponen atas lutut kulihat sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Amat kontras dengan warna kulitnya. Saya terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut sampai.., sampai.. Aah, saya mengembuskan napas. Rongga dadaku mulai terasa sesak. Wajahku amat dekat dengan lututnya. Menawan nafasku rupanya membikin bulu-bulu itu meremang.

“Saya sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Kenyal.

“Menawan, Jhony?” Saya mengangguk.

“Tunjukkan bahwa kamu menyenangi. Tunjukkan bahwa betisku cantik!”

Saya mengangkat kaki Mbak Lia dari lututku. Sambil konsisten mengelus betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu. Saya sedikit membungkuk supaya bisa mencium pergelangan kakinya. Pada ciuman yang kedua, saya menjulurkan lidah supaya bisa mencium sambil menjilat, mencicipi kaki cantik itu. Sebab kecupanku, Mbak Lia menurunkan paha kanan dari paha kirinya. Dan tidak sengaja, kembali mataku terpikat memandang komponen dalam kanannya. Ketika mau memandang lebih terang, kugigit komponen bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Saya melepaskan gigitanku, kudengar tawa terbendung, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengangkat daguku. Saya menelentang.

“Kurang terang, Jhony?” Saya mengangguk.

Mbak Lia tersenyum jahil sambil mengusap-usap rambutku. Lalu telapak tangannya menekan komponen belakang kepalaku sehingga saya menunduk kembali. Di depan mataku sekarang terpampang estetika pahanya. Saya pernah saya memandang paha semulus dan seindah itu. Cuma atas pahanya ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman. Cuma dalamnya juga ditumbuhi melainkan tak selebat komponen atasnya, dan warna kehitaman itu agak memudar. Amat kontras dengan pahanya yang berwarna gading.

Saya merinding. Ketika mau memandang paha itu lebih utuh, kuangkat kaki kanannya lebih tinggi lagi sambil mencium komponen dalam lututnya. Dan paha itu kian terang. Sebab. Di paha komponen belakang mulus tanpa bulu. Ketika gemas, kukecup berulang kali. Kini-kecupanku kian lama kian tinggi. Dan saat cuma berjarak kaprah-kaprah selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, ciuman-kecupanku berubah menjadi kecupan yang panas dan berair.

Sebab hidungku amat dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Ketika amat dekat, walau tersembunyi, dengan terang bisa kulihat bayang-bayang bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip membayang di komponen tengah segitiga itu. Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri kanan G-stringnya. Sambil menatap pesona di depan mataku, saya menarik napas dalam-dalam. Tercium bebauan segar yang membuatku menjadi kian tidak berdaya. Ingin yang memaksaku terperangkap di antara kedua belah paha Mbak Lia. Saya kusergap bebauan itu dan menjilat kemulusannya.

Mbak Lia menghempaskan kepalanya ke sandaran bangku. Menarik napas berulang kali. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya sehingga roknya kian tersingkap sampai terbendung di atas pangkal paha.

“Menawan Jhony?”

“Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan kecupan ke betis dan lutut kirinya.

Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya, dan meletakkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya. Mbak Lia menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Lalu saat kecupan-ciumanku merambat ke paha komponen dalam dan kian lama kian mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku kian keras. Dan saat bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Mbak Lia mendukung kepalaku.

Saya tertegun. Tak. Kami saling menatap. Saya lama kemudian, sambil tersenyum menarik hati, Mbak Lia menarik telapak kakinya dari pundakku. Dia lalu menekuk dan meletakkan telapak kaki kanannya di permukaan bangku. Pose yang amat beralkohol. Sebelah kaki menekuk dan terbuka lebar di atas bangku, dan yang sebelah lagi menjuntai ke karpet.
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

View AllCerita Ngentot

 
Copyright © 2015. Cerita Bokep, cerita seks, cerita dewasa, cerita mesum.
Design by YOYOSHII. Published by Themes Paper. Powered by Blogger.
Creative Commons License