Cerita Dewasa Vagina Pembantu Pemuas Nafsuku

Selasa, 10 Juli 2018

Ceritabokep88.blogspot.com, Cerita Mesum - Cerita Dewasa Vagina Pembantu Pemuas Nafsuku. Gila, cuma kata itu yang adanya dalam benakku saat mengingat Cerita Pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga sekarang menjadi skandal Cerita selingkuh. saya dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tetapi saya amat menikmatinya. kisah panas yang sampai sekarang menjadi rahasia dalam rumah tanggaku.

Cerita Dewasa - Di dalam ruangan itu terlihat sunyi sebagian dari mereka tak sanggup menatap dua orang suami istri terbujur kaku, sementara di sampingnya terkandung anak yang masih berumur 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, pasal merasa kasihan saya meminta izin suamiku buat menemuinya,

setelah memperoleh izin saya lantas menghampiri anak tersebut berkeinginan bisa menenangkan hati anak tersebut,
“Al”. panggilku pelan bersetara dengan duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”

Cerita Dewasa Vagina Pembantu Pemuas Nafsuku

Cerita Dewasa Vagina Pembantu Pemuas Nafsuku
Cerita Dewasa Vagina Pembantu Pemuas Nafsuku

Anak itu tetap menangis, sebagian detik dia memandangku serta tak lama setelah itu dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang,
“tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang saya mengelus punggungnya berkeinginan bisa meringankan bebannya,

“tante… bangunin mama,”katanya bersetara dengan memukul pundakku, saya makin tidak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,
“Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih adanya tante setara om,” saya menatap ke belakang ke arah suamiku bersetara dengan membagikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku,

“mulai kini Aldi boleh tinggal bersama tante serta om, gi mana?” tawarku bersetara dengan memeluk erat kepalahnya,
Sebelum lebih jauh mohon izinkan saya buat memperkenalkan diri, namaku Lisa umur 25 tahun saya menikah di umur muda pasal kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi ataupun dari segi kaitan intim, tapi layaknya pepata yang menyebutkan tak adanya gading yang tidak retak,

begitu juga dengan hidupku meskipun saya mempunyai suami yang amat mencintaiku tapi sepanjang 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami berasa adanya yang kurang, tapi untungnya saya memiki seorang suami yang tak perna merasa kecewa pasal tak bisanya saya membagikan anak

untuknya buat membalas budi baik kakakku, saya serta suamiku bikin keputusan buat menjaga anaknya Aldi pasal kami logikakan apakah salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari terhadap saya serta suamiku sesegera mungkin mengangkat anak dari orang lain,

Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai habit dengan kehidupannya yang baru, saya serta suamiku juga meresa amat bahagia sekali pasal semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku makin bersemangat saat bekerja serta sementara saya sekarang mempunyai kesibukan baru yaitu menjaga Aldi,
“Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar

Hari ini ialah hari pertama Aldi bersekolah sehingga saya amat bersemangat sekali, sehabis semuanya telah beres saya meminta pak Rojak buat mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, sebagian saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. layaknya terhadap lazimnya ibu rumah tangga, saya berencana menyiapkan makanan yang special buat Aldi sehingga saya bikin keputusan buat memasak sebuah di dapur,

tetapi saat saya melangkah ke dapur seketika kakiku berasa kaku saat menatap kedatangan pak Isa yang sedang melaksanakan kaitan mesra dengan mba Ani, mereka yang tak merasai kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka,
“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke terhadap mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget menatap ke hadiranku, “kalian benar-benar tak bermoral, memalukan sekali!”

Mereka tanpak terdiam bersetara dengan merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, sebagian saat saya menatap penis pak Isa yang terlihat masih amat tegang, sesungguhnya saya amat heran menatap ukuran penis pak Isa yang besar serta berurat, lain hal sekali dengan suamiku,
“maafin kami Bu,” sekarang Ani membuka mulutnya, sementara pak Isa masih terdiam,

“Maaf… kamu benar-benar perempuan murahan, kamu tahu kan pak Isa itu telah memiliki istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tak menelusuri yang sebaya denganmu?” emosiku makin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tak menyangka nyatanya anda yang amat aku hormati nyatanya tak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” sebagian kali saya menggelengkan kepalahku, bersetara dengan menunjuk ke arahnya,

“maaf Bu ini seluruh salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,
“mulai kini kalian aku PECAT, serta jangan perna menyentuh maupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku

Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tak menyangkah kalau kelakuan dapat membuatnya kehilangan pekerjaan, sementara pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis,
“hehe…. Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan aku Bu,” ancamnya dengan amat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,

“apa-apaan ini lepaskan saya, atau aku akan berteriak,” saya mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,
“teriak saja Bu, tak akan adanya orang yang mendengar,” timpal Ani bersetara dengan menolong pak Isa mengikat kedua tanganku,

Apa yang di katakan Ani adanya benarnya juga, tapi meskipun begitu saya tak mau menyerah begitu saja dengan sulit paya saya berupaya melepaskan diri tetapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, dengan tidak dapat berbuat apa-apa saya cuma bisa mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar saya di tidurkan di atas kasur yang tipis, sementara Ani mengambil sesuatu Hp serta nyatanya Hp itu di gunakan buat merekamku, sehingga kehawatiranku makin menjadi-jadi
“kalian biadab, tak tau terimakasih ****** kalian!” air mataku tak bisa kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,

“ja-jangan, mau apakah kalian lepaskan aku ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,
“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu nyatanya hari ini ialah hari keberuntungan saya, serta hari yang sil bagi Ibu,” makin lama saya merasa tangannya makin dalam memasuki dasterku,

“tidak di sangkah impian aku akhirnya terkabul juga,”” sambungnya bersetara dengan meremasi paha area dalamku,
“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” sekarang giliran Ani yang menceramahiku,
“ya, aku ngaku salah tolong lepasin saya,” sekarang saya cuma bisa memohon supaya mereka sedikit iba melihatku, tapi sayangnya apakah yang kuharapkan tak terjadi, pak Isa dengan tidak makin buas memainkan diriku

Aku cuma bisa menatap pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang jelas jelas telah tak tertutupi apa-apa lagi bisa dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,
“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, bersetara dengan mengulum payudaraku sebagian kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,

“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” jelas jelas sesegera mungkin diakui, tubuhku tak bisa membohonginya meskipun bibirku berkata tidak,
“wa…wa… Ibukan telah memiliki suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar perempuan munafik, kini Ibu tau kan kenapa aku menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga bikin hatiku berasa sangat sakit mendengarnya,

“aahhkk… pak, hhmm…. pak telah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tak bisa diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang telah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,
“oo… nikmat ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang telah makin terangsang, leherku berasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang,
Dengan amat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, saya jelas jelas amat rajin mencukur rambut vaginaku supaya terlihat lebih bersi serta Cerita seks 
Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang sekarang telah tak ditutupi oleh sehelai kain, dengan tidak memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga area dalam vaginaku bisa di rekam jelas oleh Ani, sebagian kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku,

“ohk pak plisss. jangan…? aku malu…” saya merasa amat malu sekali di perlakukan layaknya itu, baru kali ini saya bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,
“Ha…ha… malu kenapa Bu? ****** aja tak malu ga pake baju waktu ibu malu si…” katanya yang makin merendahkan derajatku, sehabis puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani buat memegangi kakiku sementara pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku,

Dengan amat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri serta kanan secara bergantian, makin lama jilatannya makin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,
“aahkk… telah pak, rasanya amat geli hhmm…” saya berupaya sekuat energi mengatupkan kedua kakiku tapi usahaku sia-sia saja, dengan amat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sementara Ani dengan tidak puas menatap ke adaanku yang tidak berdaya,

“nikmatin aja Bu, hehe. aku dulu setara layaknya ibu senantiasa menolak tetapi ujung-ujungnya justru ketagihan” kata Ani dengan tidak melepaskan pegangannya pada kakiku,
Semakin lama saya makin tak tahan, seketika saya merasa tubuhku layaknya di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tak memegang kakiku dengan amat erat bisa jadi saat ini wajah pak Isa telah mendapat tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan amat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku berasa lemas,

“ha…ha… kaya gimana Bu, mau yang lebih enak…”. pak Isa tertawa puas, saya cuma bisa menggelengkan kepalaku pasal saya telah tak dapat lagi buat mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri bersetara dengan memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku,

“aahkk… sakit…” saya memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku bersetara dengan menarik napas menahan rasa sakit yang sangat amat di vaginaku pasal ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,

“tahan Bu, bentar lagi juga nikmat ko’ “ kata Ani yang sekarang melepaskan ikatan di tanganku, sehabis ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,

Dengan amat laju pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss…ploskkss…”. saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin laju sodokannya suaraku makin lantang terdengar,

“oh yeeaa… nikmat Bu, hhmm… nyatanya memiaw Ibu masih sempit sekali meskipun telah perna menikah,” katanya memujiku, tapi mendengar pujiannya saya tak merasa bangga melainkan saya meresa jijik pada diriku sendiri,

Aku merasa vaginaku layaknya di masuki benda yang amat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya jelas jelas amat sakit sekali tapi di sisi lain saya merasa amat menikamati perkosaan rehadap diriku, sepanjang ini saya belum perna mengalami Perihal layaknya ini dari suamiku sendiri,

“ayo sayang, bilang kalau tongkol aku enak…” dengan amat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,
“ti-tidak…. ahk… hhmm…” saya di untuk merem melek olehnya,
“haha. kamu mau jujur atau tidak, kalau tak hhmm… aku akan adukan seluruh ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang amat menjijikan,

“ja-jangan pak,” saya memohon ke padanya, pasal takut dengan ancamannya akhirnya saya menyerah juga “iya, aahhkk… saya suka…” kataku dengan suara yang hampir tak terdengar,
“APA… aku TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan amat kencang sehingga gendang telingaku berasa mau pecah mendengar teriakannya,

“IYA PAK, nikmat SEKALI aku SUKA setara tongkol BAPAK…aahhk…uuhhkk!!”. dengan sekuat energi saya berupaya tegar serta berkeinginan semuanya laju berlalu,
Setelah berapa menit setelah itu tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat saya kembali merasakan orgasme yang ke dua kalinya,

Dengan amat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga saya Berada menungging, pantatku yang bulat serta padat menghadap dirinya,
“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya bersetara dengan meremasi bongkahan pantatku,
“pak, aku mohon laju lakukan,”

“haha. kenapa Bu, telah ga tahan” berkali-kali pantatku mendapat pukulan darinya, sesungguhnya saya tak menyangka dengan kata-kataku tadi dapat membuatku makin renda di mata mereka, sesungguhnya saya cuma bermaksud supaya seluruh permainan ini dengan cepat berakhir tetapi sayangnya pak Isa tak menginginkan itu,

“tenang Bu, relaks saja dulu?”
Pak Isa amat pintar memainkan tubuhku, dengan amat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di laksanakan berkali-kali sehingga pantatku makin terlihat membusung ke belakang,

“ohhkk… pak, hhhmm…”. ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang amat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk…ooo…. ssstt…uuuuu… pak” nyatanya rintihanku bikin pak Isa makin mempercepat gerakan jarinya,

pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sementara jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. terhadap saat saya amat terangsang seketika kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu ialah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi,

“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berkeinginan ia dapat membantuku buat lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu dengan tidak rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke terhadap suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat menatap keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,

“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,
“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ sebagian kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tidak henti-hentinya memandangi badan mulusku,
“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia telah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak serta saya cuma dapat berkeinginan pak Rojak tak memperdulikan tawaran pak Isa,

“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi
“jangan pak aku mohon tolongin saya,” saya mengiba ke terhadap pak Rojak, tapi pak Isa tak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,
“bapak liat ni, memiawnya telah basa banget… perempuan ini munafik” pak Rojak terdiam layaknya adanya yang sedang di piirkannya,

“memiawnya masih sempit lo, apakah lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berkeinginan pak Rojak mau bergabung dengannya buat menikmati tubuhku,
Akhirnya pak Rojak tak tahan menatap vaginaku yang becek terpampang di depannya,

“hhmm… oke lah tetapi boolnya untuk aku ya, ” tubuhku makin berasa lemas, sekarang saya telah tak tau sesegera mungkin meminta tolong ke terhadap siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,
“sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa bersetara dengan tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan amat pelan saya menuduki penis pak Isa,

“eennnggkk…. “ saya menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan amat erat pak Isa memeluk pinggangku supaya tak bisa bergerak,
Setelah melepas seluruh pakaian yang adanya di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis Berposisi di depan anusku sebagian kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,

“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak aku belum pernah” saya berupaya melepaskan diri saat pak Rojak mulai berupaya memasuki anusku, sempat sebagian kali ia gagal meembus anusku yang jelas jelas masih perawan,
“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah setara cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak supaya dengan cepat membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya,

“AAAAAA…”. saya berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, dengan tidak membagikan saya nafas ia menekan penisnya makin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” saya merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku,

“gi mana pak? nikmat kan?” tanya pak Isa yang sekarang ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,
“eehhkknngg… mantab pak, nikmat banget he…he…. hhmm…”. makin lama kedua laki laki tersebut makin mempercepat tempo permainan kami,

Sudah sebagian menit berlalu kedua orang laki laki ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sementara diriku sedah sebagian kali merasakan orgasme yang hebat sehingga tubuhku berasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. sehabis sebagian menit saya merasakan orgasme seketika pak Isa menunjukan jikalau dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat energi pak Isa makin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam jumlah sebagian detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku,

“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, sehabis puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,
“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak bersetara dengan menarik wajahku supaya menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, saya amat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,

Kini saya benar-benar telah tak mempunyai energi sedikitpun, buat mengangkat tubuhku saja berasa amat berat sekali, sementara mereka dengan tidak puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka pasal kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa berasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,

********
Aku duduk di atas sofa bersetara dengan menatap anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat amat cerah sekali bertanda jikalau mereka amat bahagia, entah kenapa seketika di pikiranku terlintas kembali apakah yang berlangsung tadi pagi yang menimpa diriku, makin saya berupaya melupakannya rasanya ingatan itu makin menghantuiku, saya tak dapat membayangkan kalau sampai suamiku mengenali kalau saya di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,

“hhmm… gi mana Aldi telah negerti belom” kataku bersetara dengan mengucek rambutnya yang sedang sibuk menjumlah soal yang di memberi suamiku, “ya telah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, untuk kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua,
Baru satu langkah saya keluar dari kamar seketika pergelangan tanganku berasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,

“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang amat pelan,
“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami serta anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi bersetara dengan mencubit payudaraku, dengan sigap saya mundur ke belakang,

“jangan main-main pak,” sebagian kali saya memandang pintu kamarku yang tak tertutup rapat, tapi pak Rojak tak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan menyebutkan akan membongkar seluruh rahasiaku ke terhadap suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,

“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, pasal telah tak tahu lagi sesegera mungkin melaksanakan apa, dia terseyum puas melihatku tidak berdaya dengan permintaanya,
“maaf Bu, aku inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas,

setelah berkata layaknya itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga saya susah bernafas, “hhmm… bauh badan ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku
“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,

Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,
“Ibu dapat bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengenali apakah yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya bersetara dengan menarik rambutku sehingga saya sesegera mungkin mengcover mulutku dengan telapak tanganku supaya suara terikanku tak terdengar oleh suami serta anakku,

“Pak ku mohon jangan di sini,” saya cuma dapat rujukan oleh saja saat pak Rojak menyuruhku buat menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sementara wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka,
“tahan ya Bu,” katanya bersetara dengan menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan amat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga saya tidak tahan buat tak mendesah,

“aahkk. pak hhmm. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak makin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang,
“kalau kamu tak mau kepergok jangan bicara,” bentak pak Rojak bersetara dengan memukul pantatku
“ta-tapi pak, oohhkk… saya ga kuat,” kataku dengan suara yang amat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”

Pak Rojak seolah-olah tak mau tahu, sekarang dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga saya merasa celana dalamku tampak makin basah oleh air liurnya. sehabis puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku buat membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. amat susah bagiku buat melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi saya sesegera mungkin bekonsentrasi supaya suaraku tak keluar dengan keras meskipun terhadap akhirnya saya berhasil membuat turun celana dalamku sampai ke lutut,

“hhuuu… mantab…”. katanya bersetara dengan merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi bersetara dengan menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,
“pak, ja-jangan…” saya amat takut sekali kalau suamiku menatap ke arahku, seketika saya di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga saya terpekik cukup keras,
“sayang… adanya apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku
“aahkk… tak pa, cuman hhmm. tadi adanya tikus lewat,” jawabku asal-asalan supaya suamiku tak curiga ke padaku, tapi untungnya suamiku tak menatap ke arahku, dalam ke adaan terjepit layaknya ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,
“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tak percaya, “apa butuh papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tapi untungnya saya masih banyak akal,
“aahhgg… ga usah hhmm. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa enak yang di memberi pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tak curiga dengan suaraku,

“asyikan Bu, ngobrol dengan suami bersetara dengan di mainin memiawnya,” saya memandangnya dengan wajah yang memerah pasal nafsuku telah di puncak, “ko’ diam laju ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya saya langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apakah yang kini Ibu lakuin,” mendengar ancamannya saya kembali terdiam,

Cerita Dewasa Vagina Pembantu Pemuas Nafsuku

Dengan amat terpaksa saya kembali mengajak suamiku mengobrol, meskipun di dalam hati saya merasa was-was takut kalau suamiku merasai suaraku yang berubah menjadi desahan,
“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang sekarang sedang diperkosa oleh pak Rojak, dengan tidak kusadari pak Rojak telah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga sebagian kali saya terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan amat keras ke dalam vaginaku,

“terserah mama saja… papa setara Aldi ikut aja,”
“iya ma, apakah aja asalkan enak,” sambung Aldi,

Waktu demi masa sudah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar serta mulai menyukai metode pak Rojak memperkosaku meskipun terhadap awalnya hatiku berasa memprihatinkan sekali di perlakukan layaknya ini,
“aahk…. pak hhmm. enak,” saya melenggu panjang saat orgasme melandahku, sekarang perkosaan yang ku natural berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,

“ohhk… memiaw istri majikan nyatanya nikmat sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar amat manja

Beberapa menit setelah itu kami mengerang berserentakan saat kenikmatan melanda kami berdua, sehabis merasa puas saya serta pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya
Setelah membuatkan minuman saya kembali ke kamarku menemui anak serta suamiku, mereka terlihat tanpak bahagia sekali melihatku hadir dengan membawa minuman serta makanan kecil,
“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku bersetara dengan meletakan cangkir serta piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi buat belajar,

“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa tiap kali menatap Aldi hatiku berasa menjadi damai, serta seluruh problem layaknya terlupakan,
Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga saya memberanikan diri buat menanyakan ke padanya,

“ada pa, ko memandang mama layaknya itu” kataku bersetara dengan mengupas jeruk buat Aldi yang sedang menulis,
suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku berasa berhenti,
“bau, bau apakah pa?” tanyaku buat memastikan apakah maksud dari persoalan suamiku,
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam sebagian saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya bersetara dengan tertawa memandangku, mendengar perkataanya saya menjadi sedikit lega,
“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja bersetara dengan mencubit penis suamiku,
Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku buat melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku jelas jelas berasa lelah pasal seharian sesegera mungkin merasakan orgasme, tapi di sisi lain saya amat bahagia pasal suamiku tak mencurigai saya pasal bau tubuhku layaknya bau orang yang habis bercinta
Hampir setiap hari saya merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yangh tak saya dapatkan dari suamiku yang bikin saya makin liar.
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

View AllCerita Ngentot

 
Copyright © 2015. Cerita Bokep, cerita seks, cerita dewasa, cerita mesum.
Design by YOYOSHII. Published by Themes Paper. Powered by Blogger.
Creative Commons License