Cerita Sex Ngentot Keponakan Pengantin Baru

Kamis, 05 Juli 2018

Ceritabokep88.blogspot.com, Cerita DewasaCerita Sex Ngentot Keponakan Pengantin Baru. Keponakanku yang baru menikah tinggal bersamaku pasal mereka belum mempunyai rumah sendiri. tak menjadi problem bagiku pasal saya tinggal sendiri sehabis lama bercerai serta saya tak mempunyai anak dari perkawinan yang gagal itu. Sebagai pengantin baru, tentunya Keponakan serta istrinya, Ines, lebih kerap menghabiskan masanya di kamar "Cerita Selingkuh".

Cerita Pemerkosaan - Pernah satu malam, saya mendengar erangan Ines dari kamar mereka. saya mendekat ke pintu, terdengar Ines mengerang2, “Terus mas, nikmat mas, terus ……, yah udah keluar ya mas, Ines belum apa2″. Sepertinya Ines tak terpuaskan dalam ‘pertempuran” itu pasal suaminya keok duluan. sebagian kali saya mendengar lenguhan serta diakhiri dengan keluhan senada. Kasihan juga Ines.

Cerita Sex Ngentot Keponakan Pengantin Baru
Cerita Sex Ngentot Keponakan Pengantin Baru

Suatu sore, sepulang dari kantor, saya lupa membawa kunci rumah. saya mengetok pintu cukup lama sampai Ines yang membukakan pintu. saya telah lama terpesona dengan kecantikan serta bentuk badannya. Tinggi badannya sekitar 167 cm. Rambutnya tergerai sebahu. Wajahnya cantik dengan bentuk mata, alis, hidung, serta bibir yang indah. Ines cuma mengenakan baju kimono yang terbuat dari bahan handuk selama cuma 15cm di atas lutut.

Paha serta betis yang tak ditutupi daster itu tampak sangat mulus. Kulitnya kelihatan licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus yang pendek. Pinggulnya yang besar melebar. Pinggangnya kelihatan ramping. sedangkan kimono yang menutupi dada atasnya belum sempat diikat secara sempurna, mengakibatkan belahan toket yang montok itu menyembul di belahan baju, pentilnya membayang di kimononya. Rupanya Ines belum sempat mengenakan bra. Lehernya jenjang dengan sebagian helai rambut terjuntai. sedangkan bau harum sabun mandi terpancar dari tubuhnya.

Agaknya Ines sedang mandi, atau baru saja selesai mandi. dengan tidak sengaja, sebagai laki-laki normal, kon tolku berdiri menatap badannya. Dari samping kulihat toketnya begitu menonjol dari balik kimononya. menatap Ines sewaktu membelakangiku, saya terbayang betapa nikmatnya jika badan tersebut digeluti dari arah belakang. saya berjalan mengikutinya menuju ruang makan. Kuperhatikan gerak badannya dari belakang. Pinggul yang besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkah-langkah kakinya. Ingin rasanya kudekap badan itu dari belakang erat-erat. Ingin kutempelkan kon tolku di gundukan pantatnya. serta ingin rasanya kuremas-remas toket montoknya habis-habisan.

“Sori Nes, om lupa bawa kunci. Kamu terganggu mandinya ya”, kataku. “Udah selesai kok om”, jawabnya. saya duduk di meja makan. Ines mengambilkan teh buatku serta setelah itu masuk ke kamarnya. tidak lama setelah itu Ines keluar cuma mengenakan daster tipis berbahan licin, mempertontonkan tonjolan toket yang membusung. Ines tak mengenakan bra, sehingga kedua pentilnya tampak jelas sekali tercetak di dasternya. Ines beranjak dari duduknya serta mengambil toples berisi kue dari lemari makan. terhadap posisi membelakangiku, saya melihat badannya dari belakang yang amat merangsang.

Kita ngobrol ngalor ngidul soal macem2. kesempatan bagiku buat menatapnya dari dekat dengan tidak rasa risih. Ines tak merasai jikalau belahan daster di dadanya mempertontonkan toket yang montok kala agak merunduk. kon tolku pun menegang. Akhirnya pembicaraan menyerempet soal Cerita Mesum. “Nes, kamu gak puas ya setara suami kamu”, kataku to the point. Ines tertunduk malu, mukanya semu kemerahan. “Kok om tau sih”, jawabnya lirih. “Om kan pernah denger kamu melenguh awalnya, hanya akhirnya mengeluh.

Suami kamu cepet ngecretnya ya”, kataku lagi. “Iya om, si mas cepet banget keluarnya. Ines baru mulai ngerasa enak, dia udah keluar. Kesel deh jadinya, kaya Ines hanya jadi pemuas napsunya aja”, Ines mulai curhat. saya cuma mendengarkan curhatannya saja. “Om, mandi dulu deh, udah masanya makan. Ines nyiapin makan dulu ya”, katanya mengakhiri pembicaraan seru. “Kirain Ines nawarin mau mandiin”, godaku. “Ih si om, genit”, jawabnya tersipu. “Kalo Ines mau, om gak keberatan lo”, jawabku lagi. Ines tak menjawab cuma berlalu ke dapur, menyiapkan makan. sedangkan itu saya masuk kamarku serta mandi. kon tolku tegang gak karuan pasal pembicaraan seru tadi.

Selesai mandi, saya cuma memakai celana pendek serta kaos, sengaja saya tak memakai CD. Pengen rasanya malem ini saya ngen totin Ines. terlebih jika suaminya sedang tugas keluar kota buat sebagian hari. kon tolku masih ngaceng berat sehingga kelihatan jelas tercetak di celana pendekku. Ines diam saja menatap ngacengnya kon tolku dari luar celana pendekku. Ketika makan malem, kita ngobrol soal yang lain, Ines berupaya tak mengarahkan pembicaraan kearah yang tadi. Kalo Ines tertawa, ingin rasanya kulumat habis-habisan bibirnya. Ingin rasanya kusedot-sedot toket nya serta ingin rasanya kuremas-remas pantat kenyal Ines itu sampai dia menggial-gial keenakan.

Selesai makan, Ines membereskan piring serta gelas. Sekembalinya dari dapur, Ines terpeleset sehingga terjatuh. Rupanya adanya air yang tumpah ketika Ines membawa peralatan makan ke dapur. Betis kanan Ines membentur rak kayu. “Aduh”, Ines mengerang kesakitan. saya dengan cepat menolongnya. Punggung serta pinggulnya kuraih. Kubopong Ines kekamarnya. Kuletakkan Ines di ranjang. Tercium bau harum sabun mandi memancar dari badannya. Belahan daster terbuka lebih lebar sehingga saya bisa dengan leluasa menatap kemontokan toketnya.

Nafsuku pun naik. kon tolku makin tegang. ketika saya menarik tangan dari pinggulnya, tanganku dengan tidak sengaja mengusap pahanya yang tersingkap. Ines berupaya meraih betisnya yang terbentur rak tadi. Kulihat bekas benturan tadi bikin sedikit retak di betis nya. saya pun berupaya membantunya. Kuraih betis tersebut seraya kuraba serta kuurut area betis yang retak tersebut. “Pelan om, sakit”, erangnya lagi. Lama-lama suaranya lenyap. bersetara dengan terus memijit betis Ines, kupandang wajahnya. Matanya kini terpejam. Nafasnya jadi teratur. Ines telah tertidur. bisa jadi pasal lelah seharian membereskan rumah. saya makin melemahkan pijitanku, serta akhirnya kuhentikan setara sekali.

Kupandangi Ines yang tengah tertidur. Alangkah cantiknya wajahnya. Lehernya jenjang. Toketnya yang montok bergerak naik-turun dengan teratur mengiringi nafas tidurnya. pentilnya menyembul dari balik dasternya. Pinggangnya ramping, serta pinggulnya yang besar melebar. Daster tersebut tak dapat menyembunyikan garis segitiga CD yang kecil. Terbayang dengan apakah yang adanya di balik CDya, kon tolku menjadi makin tegang. terlebih jika paha yang putih terbuka pasal daster yang tersingkap. Kuelus betisnya. Kusingkapkan area bawah dasternya sampai sebatas perut.

Kini paha mulus itu terhampar di hadapanku. Di atas paha, sebagian helai bulu jembut keluar dari CD yang minim. Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam, sedang badannya berwarna putih. Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya bersetara dengan kuamati wajah Ines. Kueluskan perlahan ibu jariku di belahan bibir no noknya. kuciumi paha mulus tersebut berganti-ganti, kiri serta kanan, bersetara dengan tanganku mengusap serta meremasnya perlahan-lahan. Kedua paha tersebut secara otomatis bergerak membuka agak lebar. setelah itu saya melepas celana pendekku. Kembali kuciumi serta kujilati paha serta betis nya.

Kutempelkan kepala kon tolku yang telah ngaceng berat di pahanya. Rasa hangat mengalir dari paha Ines ke kepala kon tolku. kugesek-gesekkan kepala kon tol di selama pahanya. kon tolku terus kugesek-gesekkan di paha bersetara dengan agak kutekan. makin berasa enak. Nafsuku makin tinggi. saya makin nekad. Kulepaskan daster Ines, Ines terbangun pasal ulahku. “Om, Ines mau diapain”, katanya lirih. saya heran serta dengan cepat menghentikan aksiku. saya memandangi badan mulus Ines dengan tidak daster menghalanginya. badan moleknya sungguh membangkitkan birahi. toket yang besar membusung, pinggang yang ramping, serta pinggul yang besar melebar. pentilnya berdiri tegak.

“Nes, om mau ngasi kenikmatan setara kamu, mau enggak”, kataku perlahan bersetara dengan mencium toket nya yang montok. Ines diam saja, matanya terpejam. Hidungku mengendus-endus kedua toket yang berbau harum bersetara dengan sesekali mengecupkan bibir serta menjilatkan lidahkupentil. toket kanannya kulahap ke dalam mulutku. tubuhnya sedikit tersentak ketika pentil itu kugencet perlahan dengan memakaikan lidah serta gigi atasku. “Om…”, rintihnya, rupanya tindakanku membangkitkan napsunya juga. pasal amat ingin mengalami kenikmatan dien tot, Ines diam saja membiarkan saya menjelajahi badannya. kusedot-sedot pentil toketnya secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak kuperkuat sedotanku. Kuperbesar area lahapan bibirku. sekarang pentil serta toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu seluruh masuk ke dalam mulutku.

Kembali kusedot area tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajah Ines tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua toket harum itu kuciumi serta kusedot-sedot secara berirama. kon tolku bertambah tegang. bersetara dengan terus menggumuli toket dengan bibir, lidah, serta wajahnya, saya terus menggesek-gesekkan kon tol di kulit pahanya yang halus serta licin. Kubenamkan wajahku di antara kedua pisah gumpalan dada Ines. perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-gesekkan wajahku di lekukan badan yang merupakan limit antara gumpalan toket serta kulit perutnya. Kiri serta kanan kuciumi serta kujilati secara bergantian.

Kecupan-kecupan bibirku, jilatan-jilatan lidahku, serta endusan-endusan hidungku pun beralih ke perut serta pinggang Ines. sedangkan gesekan-gesekan kepala kon tolku kupindahkan ke betisnya. Bibir serta lidahku menyusuri perut sekeliling pusarnya yang putih mulus. wajahku bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku pun berpindah ke CD tipis yang membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan antara kulit perut serta CD, ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-helaian rambut jembutnya yang keluar dari CDnya. lantas kuendus serta kujilat CD pink itu di area belahan bibir no noknya. Ines semakin terengah menahan napsunya, sesekali terdengar lenguhannya menahan kenikmatan yang dirasakannya
Aku bangkit.

Dengan posisi berdiri di atas lutut kukangkangi badannya. kon tolku yang tegang kutempelkan di kulit toket Ines. Kepala kon tol kugesek-gesekkan di toket yang montok itu. bersetara dengan kukocok batangnya dengan tangan kananku, kepala kon tol terus kugesekkan di toketnya, kiri serta kanan. sehabis sekitar dua menit saya melaksanakan Perihal itu. Kuraih kedua pisah gumpalan toket Ines yang montok itu. saya berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping Ines dengan posisi tubuh sedikit membungkuk. Batang kon tolku kujepit dengan kedua gumpalan toketnya. sekarang rasa hangat toket Ines berasa mengalir ke semua batang kon tolku.

Perlahan-lahan kugerakkan maju-mundur kon tolku di cekikan kedua toket Ines. Kekenyalan daging toket tersebut serasa memijit-mijit batang kon tolku, berikan rasa enak yang luar biasa. Di kala maju, kepala kon tolku terlihat mencapai pangkal lehernya yang jenjang. Di kala mundur, kepala kon tolku tersembunyi di jepitan toketnya. Lama-lama gerak maju-mundur kon tolku bertambah cepat, serta kedua toket nya kutekan makin keras dengan telapak tanganku supaya jepitan di batang kon tolku makin kuat. saya pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketnya. Ines pun mendesah-desah tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…”

kon tolku pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan toket Ines. Oleh gerakan maju-mundur kon tolku di dadanya yang dibarengi dengan tekanan-tekanan serta remasan-remasan tanganku di kedua toketnya, cairan itu menjadi teroles rata di selama belahan dadanya yang menjepit batang kon tolku. Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kon tolku di dalam jepitan toketnya. Dengan ada sedikit cairan dari kon tolku tersebut saya mengalami keenakan serta kehangatan yang luar biasa terhadap gesekan-gesekan batang serta kepala kon tolku dengan toketnya. “Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” saya tidak kuasa menahan rasa nikmat yang tidak terperi. Nafas Ines menjadi tak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirnya , yang terkadang diseling desahan lewat hidungnya, “Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahan Ines makin bikin nafsuku semakin memuncak.

Gesekan-gesekan maju-mundurnya kon tolku di jepitan toketnya makin laju. kon tolku makin tegang serta keras. Kurasakan pembuluh darah yang melewati batang kon tolku berdenyut-denyut, memperbanyak rasa hangat serta enak yang luar biasa. “Enak sekali, Nes”, erangku tidak tertahankan. saya menggerakkan maju-mundur kon tolku di jepitan toket Ines dengan makin cepatnya. Rasa nikmat yang luar biasa mengalir dari kon tol ke syaraf-syaraf otakku. Kulihat wajah Ines. Alis matanya bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirnya dampak tekanan-tekanan, remasan-remasan, serta kocokan-kocokan di toketnya. adanya sekitar lima menit saya menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketnya itu.

Toket sebelah kanannya kulepas dari telapak tanganku. Tangan kananku lantas membimbing kon tol serta menggesek-gesekkan kepala kon tol dengan gerakan memutar di kulit toketnya yang halus mulus. bersetara dengan jari-jari tangan kiriku terus meremas toket kiri Ines, kon tolku kugerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. serta di sekitar pusarnya, kepala kon tolku kugesekkan memutar di kulit perutnya yang putih mulus, bersetara dengan sesekali kusodokkan perlahan di lobang pusarnya.

kucopot CD minimnya. Pinggul yang melebar itu tak berpenutup lagi. Kulit perut yang semula tertutup CD tampak jelas sekali. Licin, putih, serta sangat mulus. Di bawah perutnya, jembut yang hitam lebat menutupi area sekitar lobang no noknya. Kedua paha mulus Ines kurenggangkan lebih lebar. sekarang hutan lebat di bawah perut tadi terkuak, mempertontonkan no noknya. saya pun mengambil posisi supaya kon tolku bisa mencapai no nok Ines dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang batang kon tol, kepalanya kugesek-gesekkan ke jembut Ines.

Rasa geli menggelitik kepala kon tolku. kepala kon tolku bergerak menyusuri jembut menuju ke no noknya. Kugesek-gesekkan kepala kon tol ke sekeliling bibir no noknya. berasa geli serta enak. kepala kon tol kugesekkan agak ke arah lobang. serta menyerang sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut lobang no nok itu menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan kon tolku bersetara dengan terus memasuki lobang no nok. sekarang semua kepala kon tolku yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut no nok Ines. Jepitan mulut no nok itu berasa hangat serta nikmat sekali. Kembali dari mulut Ines keluar desisan kecil gejala enak tidak terperi. kon tolku makin tegang.

Sementara dinding mulut no nok Ines berasa makin basah. Perlahan-lahan kon tolku kutusukkan lebih ke dalam. sekarang tinggal separuh batang yang tersisa di luar. Secara perlahan kumasukkan kon tolku ke dalam no nok. Terbenam telah semua batang kon tolku di dalam no nok Ines. Sekujur batang kon tol kini dijepit oleh no nok Ines dengan amat enaknya. secara perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk kon tolku ke dalam no noknya. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam no nok cuma kepala kon tol saja. Sewaktu masuk semua kon tol terbenam di dalam no nok sampai limit pangkalnya. Rasa hangat serta nikmat yang luar biasa sekarang seolah memijiti semua area kon tolku. saya terus memasuk-keluarkan kon tolku ke lobang no noknya.

Alis matanya terangkat naik tiap kali kon tolku menyerang masuk no noknya secara perlahan. Bibir segarnya yang sensual sedikit terbuka, sedang giginya terkatup rapat. Dari mulut sexy itu keluar desis kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” saya terus mengocok perlahan-lahan no noknya. Enam menit telah Perihal itu terjadi. Kembali kukocok secara perlahan no noknya.

Kurasakan enaknya jepitan otot-otot no nok terhadap kon tolku. Kubiarkan kocokan perlahan tersebut sampai sepanjang dua menit. Kembali kutarik kon tolku dari no nok Ines. Namun sekarang tak seluruhnya, kepala kon tol masih kubiarkan tertanam dalam mulut no noknya. sedangkan batang kon tol kukocok dengan jari-jari tangan kananku dengan cepatnya

Rasa nikmat itu agaknya dirasakan pula oleh Ines. Ines mendesah-desah dampak sentuhan-sentuhan getar kepala kon tolku terhadap dinding mulut no noknya, “Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…”

Tiga menit setelah itu kumasukkan lagi semua kon tolku ke dalam no nok Ines. serta kukocok perlahan. Kunikmati kocokan perlahan terhadap no noknya kali ini lebih lama. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama saya tak puas. Kupercepat gerakan keluar-masuk kon tolku terhadap no noknya. Kurasakan rasa nikmat sekali menjalar di sekujur kon tolku. saya sampai tidak kuasa menahan ekspresi

keenakanku. bersetara dengan tertahan-tahan, saya mendesis-desis, “Nes… no nokmu luar biasa… nikmatnya…”

Gerakan keluar-masuk secara laju itu terjadi sampai sekitar empat menit. rasa gatal-gatal nikmat mulai menjalar di sekujur kon tolku. bermakna sebagian saat lagi saya akan ngecret. Kucopot kon tolku dari no nok Ines. dengan cepat saya berdiri dengan lutut mengangkangi badannya supaya kon tolku gampang mencapai toketnya. Kembali kuraih kedua pisah toket montok itu buat menjepit kon tolku yang berdiri dengan sangat gagahnya. supaya kon tolku bisa terjepit dengan enaknya, saya agak merundukkan badanku. kon tol kukocokkan maju-mundur di dalam jepitan toketnya. Cairan no nok

Ines yang membasahi kon tolku sekarang merupakan pelumas terhadap gesekan-gesekan kon tolku serta kulit toketnya. “Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, saya merintih-rintih keenakan. Ines juga mendesis-desis keenakan, “Sssh. sssh… sssh…” Giginya tertutup rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah. saya mempercepat maju-mundurnya kon tolku. saya memperkuat tekananku terhadap toketnya supaya kon tolku terjepit lebih kuat. Rasa nikmat menjalar lewat kon tolku. Rasa hangat menyusup di semua kon tolku.

Karena basah oleh cairan no nok, kepala kon tolku tampak sangat mengkilat di saat melongok dari jepitan toket Ines. Leher kon tol yang berwarna coklat tua serta helm kon tol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketnya. Lama-lama rasa gatal yang menyusup ke segenap penjuru kon tolku makin menjadi-jadi. makin kupercepat kocokan kon tolku terhadap toket Ines. Rasa gatal makin hebat. Rasa hangat makin luar biasa. serta rasa nikmat makin menuju puncaknya.

Tiga menit telah kocokan hebat kon tolku di toket montok itu terjadi. serta ketika rasa gatal serta nikmat di kon tolku hampir mencapai puncaknya, saya menahan sekuat energi benteng pertahananku bersetara dengan mengocokkan kon tol di kempitan toket indah Ines dengan amat cepatnya. Rasa gatal, hangat, serta nikmat yang luar

biasa akhirnya mencapai puncaknya. saya tidak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahananku. “Ines…!” pekikku dengan tak tertahankan. Mataku membeliak-beliak. Jebollah pertahananku. Rasa hangat serta enak yang luar biasa menyusup ke semua sel-sel kon tolku saat menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot!

Pejuku menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai menghantam rahang Ines. Peju tersebut berwarna putih serta kelihatan amat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leher Ines. Peju yang tersisa di dalam kon tolku pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya tidak kuat. Semprotan awal cuma sampai pangkal lehernya, sedang yang terakhir cuma jatuh di atas belahan toketnya. saya menikmati akhir-akhir kenikmatan.

“Luar biasa… nes, enak sekali tubuhmu…,” saya bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kata Ines lirih. “Gak apakah kalo om ngecret didalem Nes”, jawabku

“Gak apakah om, Ines pengen ngerasain kesemprot peju anget. tetapi Ines ngerasa enak sekali om, belum pernah Ines ngerasain kenikmatan layaknya ini”, katanya lagi. “Ini baru ronde pertama Nes, mau lagi kan ronde kedua”, kataku. “Mau om, tetapi ngecretnya didalem ya”, jawabnya. “Kok tadi kamu diem aja Nes”, kataku lagi. “Bingung om, tetapi nikmat”, jawabnya bersetara dengan tersenyum. “Engh…” Ines menggeliatkan badannya. saya dengan cepat mengelap kon tol dengan tissue yang adanya di atas meja, serta memakai celana pendek. sebagian lembar tissue kuambil buat mengelap pejuku yang berleleran di rahang, leher, serta toket Ines. adanya yang tak bisa dilap, yakni cairan pejuku yang telah terlajur jatuh di rambut kepalanya. “Mo kemana om”, tanyanya. “Mo ambil minum dulu”, jawabku. “Kok celananya dipake, katanya mau ronde kedua”, katanya. Rupanya Ines telah pengen saya menggelutinya sekali lagi.

Aku kembali membawa gelas berisi air putih, kuberikan kepada Ines yang langsung menenggaknya sampe habis. saya keluar lagi buat mengisi gelas dengan air serta kembali lagi ke kekamar. Masih tak puas saya memandangi toket indah yang terhampar di depan mataku tersebut. mataku memandang ke arah pinggangnya yang ramping serta pinggulnya yang melebar indah. Terus tatapanku jatuh ke no noknya yang dikelilingi oleh bulu jembut hitam jang lebat. Betapa enaknya ngen totin Ines. saya ingin mengulangi permainan tadi, menggeluti serta mendekap kuat badannya. Mengocok no noknya dengan kon tolku dengan irama yang menghentak-hentak kuat. serta saya bisa menyemprotkan pejuku di dalam no noknya bersetara dengan merengkuh kuat-kuat badannya saat saya nyampe. Nafsuku terbakar.

“Ines…,” desahku penuh nafsu. Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir sensual yang menantang itu kulumat-lumat dengan ganasnya. sedangkan Ines pun tak mau kalah. Bibirnya pun menusuk bibirku dengan dahsyatnya, seakan tak mau kedahuluan oleh lumatan bibirku. Kedua tangankupun menyusup diantara lengan tangannya. badannya kini Berposisi dalam dekapanku. saya mempererat dekapanku, sedangkan Ines pun mempererat pelukannya terhadap diriku. Kehangatan badannya berasa merembes ke badanku, toketnya yang membusung berasa makin menekan dadaku. Jari-jari tangan Ines mulai meremas-remas kulit punggungku.

Ines mencopot celanakuInes. pun merangkul punggungku lagi. saya kembali mendekap erat badan Ines bersetara dengan melumat kembali bibirnya. saya terus mendekap badannya bersetara dengan saling melumat bibir. sedangkan tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai badan area depan kami yang saling menempel. sekarang kurasakan toketnya yang montok menekan ke dadaku. serta ketika saling sedikit bergeseran, pentilnya seolah-olah menggelitiki dadaku. kon tolku berasa hangat serta mengeras. Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping serta pinggul besar Ines, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku. kon tolku tergencet perut bawahku serta perut bawah Ines dengan enaknya.

Sementara bibirku bergerak ke arah lehernyakuciumi,. kuhisap-hisap dengan hidungku, serta kujilati dengan lidahku. “Ah… geli… geli…,” desah Ines bersetara dengan menengadahkan kepala, supaya semua leher sampai dagunya terbuka dengan luasnya. Ines pun membusungkan dadanya serta melenturkan pinggangnya ke depan. Dengan posisi begitu, meskipun wajahku dalam kondisi menggeluti lehernya, badan kami dari dada hingga bawah perut tetap bisa menyatu dengan rapatnya. Tangan kananku lantas bergerak ke dadanya yang montok, serta meremas-remas toket tersebut dengan perasaan gemas.

Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan dadanya. saya berdiri dengan agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi toket. Kugeluti belahan toket Ines, sedangkan kedua tanganku meremas-remas kedua pisah toketnya bersetara dengan menekan-nekankannya ke arah wajahku. Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan toket itu. bibirku bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Kuciumi bukit toket nya, serta kumasukkan pentil toket di atasnya ke dalam mulutku. sekarang saya menyedot-sedot pentil toket kiri Ines

Kumainkan pentil di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan terkadang kuperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat. “Ah… ah… om… geli…,” Ines mendesis-desis bersetara dengan menggeliatkan badan ke kiri-kanan. saya memperkuat sedotanku. sedangkan tanganku meremas kuat toket sebelah kanan. terkadang remasan kuperkuat serta kuperkecil menuju puncak bukitnya, serta kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk serta ibu jariku terhadap pentilnya.

“Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”

Saya makin gemas toket Ines itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri serta sebelah kanan. Bukit toket terkadang kusedot sebesar-besarnya dengan energi isap sekuat-kuatnya, terkadang yang kusedot cuma pentilnya serta kucepit dengan gigi atas serta lidah. Belahan lain terkadang kuremas dengan area tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, terkadang cuma kupijit-pijit serta kupelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ines mendesis-desis keenakan. Matanya terkadang terbeliak-beliak. Geliatan badannya ke kanan-kiri makin kerap frekuensinya.

Sampai akhirnya Ines tak kuat melayani serangan-serangan awalku. Jari-jari tangan kanan Ines yang mulus serta lembut menangkap kon tolku yang telah berdiri dengan gagahnya. “Om. Batang kon tolnya besar ya”, ucapnya. bersetara dengan membiarkan mulut, wajah, serta tanganku terus memainkan serta menggeluti kedua pisah toketnya, jari-jari lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan kon tolku secara berirama. Remasannya itu berikan rasa hangat serta enak terhadap batang kon tolku kurengkuh tubuhnyadengan gemasnya.

Kukecup kembali area antara telinga serta lehernya. terkadang daun telinga sebelah bawahnya kukulum dalam mulutku serta kumainkan dengan lidahku. terkadang ciumanku berpindah ke punggung lehernya yang jenjang. Kujilati pangkal helaian rambutnya yang terjatuh di kulit lehernya. sedangkan tanganku mendekap dadanya dengan eratnya. Telapak serta jari-jari tanganku meremas-remas kedua pisah toketnya. Remasanku terkadang amat kuat, terkadang melemah. bersetara dengan telunjuk serta ibu jari tangan kananku menggencet serta memelintir perlahan pentil toket kirinya, sedangkan tangan kiriku meremas kuat bukit toket kanannya serta bibirku menyedot kulit mulus pangkal lehernya yang bebau harum, kon tolku kugesek-gesekkan serta kutekan-tekankan ke perutnya. Ines pun menggelinjang ke kiri-kanan.

“Ah… om… ngilu… terus om… terus… ah… geli… geli…terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” Ines merintih-rintih bersetara dengan terus berupaya menggeliat ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tanganku di toketnya. efeknya pinggulnya menggial ke kanan-kiri. Goyang gialan pinggul itu bikin kon tolku yang sedang menggesek-gesek serta menekan-nekan perutnya merasa makin keenakan. “Ines… nikmat sekali Ines… sssh… luar biasa… nikmat sekali…,” saya pun mendesis-desis keenakan.

“Om keenakan ya? Batang kon tol om berasa besar serta keras sekali menekan perut Ines. Wow… kon tol om berasa hangat di kulit perut Ines. tangan om nakal sekali … ngilu,…,” rintih Ines. “Jangan mainkan cuma pentilnya saja… geli… remas seluruhnya saja…” Ines makin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratku. Dia telah semakin liar saja desahannya, rupanya dia amat menikmati gelutannya, lupa jikalau saya ini om dari suaminya. “om. remasannya kuat sekali… Tangan om nakal sekali… Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kon tol om … besar sekali… kuat sekali…”

Ines menarik wajahku mendekat ke wajahnya. bibirnya melumat bibirku dengan ganasnya. saya pun tak mau kalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sedangkan tanganku mendekap badannya dengan kuatnya. Kulit punggungnya yang teraih oleh telapak tanganku kuremas-remas dengan gemasnya. setelah itu saya menindihi badan Ines. kon tolku terjepit di antara pangkal pahanya serta perutku area bawah sendiri. Rasa hangat mengalir ke batang kon tolku yang tegang serta keras. Akhirnya saya tak sabar lagi. Bibirku sekarang berpindah menciumi dagu serta lehernya, sedangkan tanganku membimbing kon tolku buat menelusuri liang no noknya.

Kuputar-putarkan dulu kepala kon tolku di kelebatan jembut disekitar bibir no nok Ines. Ines meraih batang kon tolku yang telah sangat tegang. Pahanya yang mulus itu terbuka agak lebar. “Om kon tolnya besar serta keras sekali” katanya bersetara dengan mengarahkan kepala kon tolku ke lobang no noknya. kepala kon tolku menyentuh bibir no noknya yang telah basah. dengan perlahan-lahan serta bersetara dengan kugetarkan, kon tol kutekankan masuk ke liang no nok. sekarang semua kepala kon tolku pun terbenam di dalam no noknya. saya menghentikan gerak masuk kon tolku.

“Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” Ines protes atas tindakanku. Namun saya tak perduli. Kubiarkan kon tolku cuma masuk ke lobang no noknya cuma sebatas kepalanya saja, namun kon tolku kugetarkan dengan amplituda kecil. sedangkan bibir serta hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum serta mulus, serta ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Ines menggelinjang-gelinjang dengan tak karuan. “Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, om. Geli… Terus masuk, om”. Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. sedangkan energi kukonsentrasikan terhadap pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! kon tolku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam no nok Ines dengan amat laju serta kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya.

Sementara kulit batang kon tolku bagaikan diplirid oleh bibir no noknya yang telah basah dengan kuatnya sampai memicu bunyi: srrrt! “Auwww!” pekik Ines. saya diam sesaat, membiarkan kon tolku tertanam seluruhnya di dalam no nok Ines dengan tidak bergerak sedikit pun. “Sakit om… ” kata Ines bersetara dengan tangannya meremas punggungku dengan kerasnya. saya pun mulai menggerakkan kon tolku keluar-masuk no nok Ines. saya tak tahu, apa kon tolku yang berukuran panjang serta besar ataukah lubang no nok Ines yang berukuran kecil. Yang aku tahu, semua area kon tolku yang masuk no noknya serasa dipijit-pijit dinding lobang no noknya dengan agak kuatnya.

“Bagaimana Nes, sakit?” tanyaku. “Sssh… nikmat sekali… nikmat sekali… kon tol om besar serta panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh semua penjuru lobang no nok Ines,”. jawabnya. saya terus memompa no nok Ines dengan kon tolku perlahan-lahan. toketnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku dampak gerakan memompa tadi. Kedua pentilnya yang telah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku. kon tolku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot no noknya sejalan dengan genjotanku tersebut. berasa hangat serta nikmat sekali. sedangkan tiap kali menyerang masuk kepala kon tolku menyentuh suatu daging hangat di dalam no nok Ines. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala kon tol sehingga saya merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

aku mengambil kedua kakinya serta mengangkatnya. bersetara dengan merawat supaya kon tolku tak tercabut dari lobang no noknya, saya mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ines kutumpangkan di atas bahuku, sedangkan betis kirinya kudekatkan ke wajahku. bersetara dengan terus mengocok no noknya perlahan dengan kon tolku, betis kirinya yang sangat indah itu kuciumi serta kukecupi dengan gemasnya. sehabis puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi serta kugeluti, sedangkan betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku.

Begitu Perihal tersebut kulakukan sebagian kali secara bergantian, bersetara dengan mempertahankan gerakan kon tolku maju-mundur perlahan di no nok Ines. sehabis puas dengan metode tersebut, saya meletakkan kedua betisnya di bahuku, sedangkan kedua telapak tanganku meraup kedua pisah toketnya. Masih dengan kocokan kon tol perlahan di no noknya, tanganku meremas-remas toket montok Ines. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. terkadang kedua pentilnya kugencet serta kupelintir-pelintir secara perlahan. pentil itu makin mengeras, serta bukit toket itu makin berasa kenyal di telapak tanganku. Ines pun merintih-rintih keenakan.

Matanya merem-melek, serta alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas serta ke bawah. “Ah… om, geli… geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kon tol om bikin no nok Ines merasa nikmat sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar no nok, ya om. Ngecret di dalam saja… ” saya mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kon tolku di no nok Ines. “Ah-ah-ah… bener, om. Bener… yang cepat… Terus om, terus… ” saya bagaikan dikasi spirit oleh rintihan-rintihan Ines. Tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kelajuan keluar-masuk kon tolku di no nok Ines. Terus serta terus. semua area kon tolku serasa diremas-remas dengan cepatnya oleh no nok Ines. Mata Ines menjadi merem-melek. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek serta mendesis-desis pasal merasa keenakan yang luar biasa.

“Sssh… sssh… Ines… nikmat sekali… nikmat sekali no nokmu… nikmat sekali no nokmu…” “Ya om, Ines juga merasa nikmat sekali… terusss… terus om, terusss…” saya menaikkan lagi kelajuan keluar-masuk kon tolku terhadap no noknya. “Omi… sssh… sssh… Terus… terus… Ines hampir nyampe…

sedikit lagi… sama-sama ya om…,” Ines jadi mengoceh dengan tidak kendali. saya mengayuh terus. saya belum merasa mau ngecret. Namun saya sesegera mungkin membuatnya nyampe duluan. sedangkan kon tolku mengalami no nok Ines bagaikan berdenyut dengan hebatnya. “Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar om… mau keluarah-ah-ah-ah-ah…. kini ke-ke-ke…” seketika kurasakan kon tolku dijepit oleh dinding no nok Ines dengan amat kuatnya. Di dalam no nok, kon tolku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari no nok Ines dengan cukup derasnya. serta telapak tangan Ines meremas lengan tanganku dengan amat kuatnya. Ines pun berteriak dengan tidak kendali: “…keluarrr…!” Mata Ines membeliak-beliak. Sekejap badan Ines kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. kon tolku yang tegang luar biasa kubiarkan tertanam dalam no nok Ines. kon tolku merasa hangat luar biasa pasal terserang semprotan cairan no nok Ines. Kulihat mata Ines memejam sebagian saat dalam menikmati puncaknya. sehabis sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya terhadap lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. sedangkan jepitan dinding no noknya terhadap kon tolku berangsur-angsur melemah, meskipun kon tolku masih tegang serta keras. Kedua kaki Ines lantas kuletakkan kembali di atas ranjang dengan posisi agak membuka. saya kembali menindih badan telanjang Ines dengan mempertahankan supaya kon tolku yang tertanam di dalam no noknya tak tercabut.

“Om… luar biasa… rasanya layaknya ke langit ke tujuh,” kata Ines dengan mimik wajah penuh kepuasan. kon tolku masih tegang di dalam no noknya. kon tolku masih besar serta keras. saya kembali mendekap badan Ines. kon tolku mulai bergerak keluar-masuk lagi di no nok Ines, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding no nok Ines secara berangsur-angsur berasa mulai meremas-remas kon tolku. berasa hangat serta enak. Namun kini gerakan kon tolku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti pasal ada cairan yang disemprotkan oleh no nok Ines sebagian saat yang lalu
“Ahhh… om… langsung mulai lagi… kini giliran om. semprotkan peju om di no nok Ines. Sssh…,”

Ines mulai mendesis-desis lagi. Bibirku mulai memagut bibir Ines serta melumat-lumatnya dengan gemasnya. sedangkan tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas toket Ines dan memijit-mijit pentilnya, sesuai dengan irama gerak maju-mundur kon tolku di no noknya. “Sssh… sssh… sssh… nikmat om, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis Ines. bersetara dengan kembali melumat bibir Ines dengan kuatnya, saya mempercepat genjotan kon tolku di no noknya. efek ada cairan di dalam no nok Ines, keluar-masuknya kon tol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Ines tak henti-hentinya merintih kenikmatan, “Om… ah… ”

Kon tolku makin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari toketnya. Kedua tanganku sekarang dari ketiak Ines menyusup ke bawah serta memeluk punggungnya. Tangan Ines pun memeluk.

Punggungku serta mengusap-usapnya. saya pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kon tolku ke dalam no nok Ines kini terjadi dengan laju serta bertenaga. tiap kali masuk, kon tol kuhunjamkan keras-keras supaya menyerang no nok Ines sedalam-dalamnya. kon tolku bagai diremas serta dihentakkan kuat-kuat oleh dinding no nok Ines. Sampai di langkah terdalam, mata Ines membeliak bersetara dengan bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” sedangkan daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar no nok, kon tol kujaga supaya kepalanya tetap tertanam di lobang no nok

Remasan dinding no nok terhadap batang kon tolku terhadap gerak keluar ini sedikit lebih tidak kuat ketimbang dengan gerak masuknya. Bibir no nok yang mengulum batang kon tolku pun sedikit ikut tertarik keluar. terhadap gerak keluar ini Ines mendesah, “Hhh…” saya terus menggenjot no nok Ines dengan gerakan laju serta menghentak-hentak. Tangan Ines meremas punggungku kuat-kuat di saat kon tolku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang no noknya. Beradunya daging pangkal paha memicu suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kon tolku serta no nok Ines memicu bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil Ines:

“Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…” kon tolku berasa empot-empotan luar biasa. “Nes… nikmat sekali Nes… no nokmu nikmat sekali… no nokmu hangat sekali… jepitan no nokmu nikmat sekali…”

“Om… terus om…,” rintih Ines, “enak om… enaaak… Ak! Hhh…” seketika rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kon tolku. Gatal yang nikmat sekali. saya pun mengocokkan kon tolku ke no noknya dengan makin laju serta kerasnya. tiap masuk ke dalam, kon tolku berupaya menyerang lebih dalam lagi serta lebih laju lagi dibandingkan langkah masuk lebih awal. Rasa gatal serta rasa nikmat yang luar biasa di kon tol pun makin menghebat. “Ines… aku… aku…” pasal menahan rasa enak serta gatal yang luar biasa saya tak dapat menangani ucapanku yang jelas jelas telah terbata-bata itu. “Om, Ines… mau nyamper lagi… Ak-ak-ak… saya nyam…”

Tiba-tiba kon tolku mengejang serta berdenyut dengan sangat dahsyatnya. saya tak dapat lagi menahan rasa gatal yang telah mencapai puncaknya. Namun terhadap saat itu juga seketika dinding no nok Ines mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat serta nikmat sekali itu, saya tak dapat lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku. Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kon tolku berasa disemprot cairan no nok Ines, berserentakan dengan pekikan Ines, “…nyampee…!”

Badan Ines mengejang dengan mata membeliak-beliak. “Ines…!” saya melenguh keras-keras bersetara dengan merengkuh badan Ines sekuat-kuatnya. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Pejuku pun tidak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejuku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding no nok Ines yang terdalam. kon tolku yang terbenam seluruh di dalam no nok Ines berasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya saya serta Ines terdiam dalam kondisi berpelukan erat sekali. saya menghabiskan sisa-sisa peju dalam kon tolku. Cret! Cret! Cret! kon tolku menyemprotkan lagi peju yang masih tersisa ke dalam no nok Ines. Kali ini semprotannya lebih tidak kuat. Perlahan-lahan baik badan Ines ataupun tubuhku tak mengejang lagi.

Aku menciumi leher mulus Ines dengan lembutnya, sedangkan tangan Ines mengusap-usap punggungku serta mengelus-elus rambut kepalaku. saya merasa puas sekali berhasil ngen totin Ines.
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

View AllCerita Ngentot

 
Copyright © 2015. Cerita Bokep, cerita seks, cerita dewasa, cerita mesum.
Design by YOYOSHII. Published by Themes Paper. Powered by Blogger.
Creative Commons License